Sunday, September 6, 2020

Digital Mindset di Masa New Normal

 

Digital Mindset  di Masa New Normal

Oleh: DewiRo

Belajar dengan professor satu ini memang mengasyikkan, walau hanya lewat chanel youtube dan webinar menggunakan zoom.  Yang diselenggarakan antara PGRI, penerbit Andi dan Ekoji chanel akademi. Webinar kali ini selain nara sumber Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit, ada ketua umum PGRI Prof Unifah, dari penerbit Andi Jogja Bapak Joko Irawan Mumpuni, si cantik Non Dwinita, Om Jay dan para penulis muda besutan prof Eko, beserta 166 peserta webinar, yang live lewat zoom dan lainnya melalui chanel Youtube.

Kali ini, temanya sangat keren dan sangat relevan dalam masa pandemi dengan Pembelajaran Jarak Jauh. Judulnya adalah mengenai Digital Mindset  di Masa New Normal,  yang di fokuskan digital mindset untuk pendidik, untuk guru, dosen, orang tua, para  instruktur, pemerhati pendidikan dan lain sebagainya. Dengan studi kasus, “guru penulis kilat.”

Apa yang di maksud dengan Digital Mindset?

Digital Mindset adalah berfikir secara digital, dalam menghadapi berbagai issu dan tantangan pemecahan masalah, sehingga mendapat solusi yang efektif, kreatif, inovatif dan disruptif.

Dalam masa saat pandemi ini, tentunya untuk menghadapi masa new normal atau menghadapi tatanan hidup baru di masa pandemi, kita harus berani mencoba berpikir secara digital, menghadapi berbagai isu dan tantangan dalam pemecahan masalah, sehingga diperoleh solusi yang efektif, kreatif, inovatif dan cenderung disruptif.

 

Sekarang ini, situasi serba sulit dalam segala sektor krhidupan. namun yang namanya pendidikan harus tetap berjalan terus, ilmu berkembang terus, apa yang harus kita lakukan, sebagai seorang pendidik?

Dalam menghadapi permasalahan ini, kita harus cari solusi, tapi secara efektif, kreatif, inovatif dan cenderung disruptif. Adanya fenomena digitalisasi, jadi semua hal yang bisa dipindah dalam bentuk file, seperti buku bisa jadi file dengan e-book, video dalam bentuk file, bisa berupa chanel youtube, termasuk pertemuanpun mengunakan digital mindset dengan webinar, maka kita bertemu dalam bentuk elektronik. Itu semua bisa dilakukan atau menjadi solusi bagi permasalahan yang kita hadapi.

 Seluruh profesii harus memiliki digital mandset, jika ingin berhasil dan tetap relevan dengan kondisi zaman yang dinamis, seperti sekarang ini.  Contoh Go-jek dan sejenisnya, lahir karena digital mindset, e-learning lahir karena adanya digital mindset, pertemuan yang sering kita lakukan dengan vicon menggunakan webex, zoom, google meet dan lainnya. ini juga adanya pemikiran digital mindset. Melihat berbagai karya-karya lain, seperti Bukalapak dan sejenisnya, itu juga berpikir kreatif, inovatif secara digital sehingga memberikan manfaat bagi kita semua, walau cenderung desruktif.

 

Dari semua profesi harus memiliki digital mindset. Khususnya, yang paling utama adalah guru, karena semua masyarakat semuanya dibimbing oleh guru, anak sebagai generasi penerus/ generasi muda, lahir dari sekolah, guru yang memiliki digital mindset, bisa menularkan pikiran kreatif, inovatif nya, kepada para siswa dan masyarakat semua.

 

Ada 5 ciri sederhana dalam digital mindset, untuk kalangan pendidik atau guru.

1.    Digital Mindset pertama

a.      Dulu        : Murid/kita menunggu ilmu diberikan oleh pihak lain/guru.

b.      Sekarang: Menjemput ilmu secara mandiri dan independen.

Artinya kalau masa lalu, kita hanya menunggu ilmu yang diberikan oleh guru atau pihak lain, kita menunggu diajarain, karena keterbatasan pengetahuan dan tehnologi. Sedangkan dengan adanya  perubahan digital mindset, sekarang, murid atau siapapun bisa menjemput, mencari dan memperoleh ilmu pengetahuan secara mandiri dan independent. Dalam masa pandemi dan PJJ ini, menjemput ilmu adalah sebuah keniscayaan. Untuk mengetahui banyak hal pada zaman digital mindset, tinggal memainkan jari-jemari tangan kita, untuk mengetahui banyak hal di dunia internet, jari-jemari kita tinggal searching, ilmu ada dalam gengaman kita, tidak zamanya lagi untuk menunggu ilmu, tapi waktunya menjemput ilmu secara mandiri dan independen.

 

2.    Digital Mindset

a.    Dahulu     : Ajarkan konten kepada peserta didik

b.    Sekarang : Tanamkan kompetensi kepada peserta didik

 

Dahulu, semua konten diajarkan, karena yang bisa mempelajari konten hanya guru dan sebagain masyarakat, karena keterbatasan sarana dan prasarana, hanya ada dalam buku guru, yang jumlahnya pun terbatas.peserta didik hanya bisa menerima di dalam kelas.

Tetapi di zaman digitaliisasi ini tentunya dengan digital mindset, guru tinggal meminta kepada peserta didik atau menanamkan peserta didik tentang kompetensi. Kalau hanya memberikan konten, maka akan sia-sia dan membuang-buang waktu, untuk diri kita sendiri juga membuang waktu bagi peserta didik kita.

Tugas kita sekarang adalah memberi dan menanamkan kompetensi pada peserta didik.

Tidak mungkin kita bisa menanamkan kompetensi, tanpa ada knowladge atau tanpa ada konten. Seperti yang dikatakan oleh Mas Menteri, kita harus pindah dari konten base ke  outcome base education, intinya adalah siswa kita pada saat ini, bukan tahu apa, tapi siswa kita  bisa apa, kalau mereka bisa mengerjakan sesuatu, pasti tahu.  tapi sebaliknya kalau hanya tahu dan tidak bisa apa-paa, itu namanya cuma pengetahuan hafalan/kognitif saja.  

Jadi di zaman digital mindset, dengan kecanggihan sarana seperti internet yang tersambung dengan chanel youtube dan lainnya, maka peserta didik akan mudah mendapatkan segala macam konten, bukan dari guru, tetapi dari adanya digital mindset. Semua sudah tersedia di internet.

 

3.    Digital Mindset ketiga

a.    Dahulu     : Belajar dulu baru dipraktekkan kemudian

b.    Sekarang : Belajar sambil praktek itu biasa

 

Dahulu belajar dulu, teori dulu, prakteknya belakang, kadang ilmu yang dipelajari tidak tahu cara operasionalnya, tidak bisa menggunakannya dan mempraktekan.

Pada zaman digital mindset, belajar prakter bersamaan dengan menerima teori, itu adalah hal yang biasa dan bisa dikatakan harus demikian, jadi tidak sekedar teori tetapi langsung bisa praktek. Artinya bisa menerapkan dalam kehidupan nyata, bukan hanya sekedar belajar teori.

Para peserta didik dengan mudah belajar bersamaan antara teori dan praktek, tanpa harus menunggu pemberian dari guru, mereka bisa searching sendiri di dunia maya dengan menjelajah bersama internet.

Mau belajar masak, main musik, olahraga, belajar matematika. IPA, dan lainnya tinggal klik. Skill atau keterampilan yang didapat dari zaman digital mindset, atau micro skill, semua akan terwujud. sehingga mereka bisa belajar, yang  bisa di praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu pendidikan formal, pendidikan informal maupun pendidikan nonformal, sekarang sudah menjadi konvergensi satu dan lainnya. Seperti belajar e-learning, bisa dimanasaj, kapan saja dan dengan siapa saja, peserta didik juga bisa menikmati pembelajaran dengan fun end easy, belajar teori sambil praktek. Skill bisa dipelajari sejak dini.

 

4.    Digital Mindset keempat

a.    Dahulu     : Peserta didik adalah kertas kosong yang harus diisi

b.    Sekarang : Peserta didik adalah manusia yang cerdas yang harus dibentuk

 

Pada zaman kita SD dulu, adalah seperti kertas kosong, yang harus diisi, itu konsep lama. Tetapi zaman sekarang pada digital mindset, siswa adalah seorang yang cerdas, siswa adalah manusia yang perlu dibentuk, selalu memiliki konsep, bahwa putra-putri kita semua, bisa menjadi pribadi yang hebat, menjadi manusia yang cemerlang, penuh inovatif.

Paradigma ini harus kita tumbuhkan, harus bisa belajar bersama-sama, belajar seumur hidup, maksudnya belajar seumur hidup artinya, bahwa kita harus selalu belajar, guru yang berhenti belajar artinya berhenti menjadi guru, atau BERANI MENGAJAR SIAP BELAJAR. 

Belajar adalah proses seumur hidup, tidak ada kata akhir. Kehidupan adalah juga sebuah pembelajaran.  Guru yang berhenti belajar, artinya dia telah berhenti menjadi guru, karena belajar sepamjang hidup.

 

5.    Digital Mindset kelima

a.    Dahulu                       : Berkarya itu harus kalau sudah dewasa

b.    Sekarang       : Segala usia terbuka untuk berkarya

 

Paradigma lama, bahwa orang kalau mau berkarya harus pntar dulu, harus besar dulu, harus dewasa dan banyak ilmu pengetahuannya.

Tentunya pendapat dan persepsi seperti itu, tidak berlaku lagi di zaman digital ini. 

Mindset harus kita rubah, filosofi diatas harus kita perbaharui, bahwa, Berkarya terbuka dari sejak dini. Segala usia terbuka untuk berkarya, tidak usah menunggu.

Karena pada zaman digital mindset, dengan teknologi karya-karya yang bersifat digital. mudah dikembangkan dan mudah diakses oleh berbagai kalangan.

 

Sangat sesuai pada masa pandemi covid-19 ini, paradigma dan pola pikir harus menuju digital mindset. Berkaryalah sejak dini dan terbuka untuk siapasaja. Karya digital sangat mudah diciptakan dan dikembangkan. Berkaryalah dan berbagilah, ilmu yang Anda punya.

 

Salam Literasi

Baliku, 6-09-2020



No comments:

Post a Comment